Kabarpublic.com — PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menyalurkan bantuan senilai Rp858,7 juta untuk mendukung percepatan pengendalian stunting di Kota Bontang, Kalimantan Timur.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen Pupuk Kaltim dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui program Pencegahan dan Pengendalian Stunting (PEDALGAS).
Dukungan itu diberikan untuk pengentasan stunting di 15 kelurahan di Kota Bontang.
Masing-masing kelurahan mendapatkan Rp30 juta untuk intervensi pencegahan dan pengendalian stunting serta Rp20 juta untuk penguatan kapasitas kader Posyandu.
Selain itu, Pupuk Kaltim memberikan dukungan sebesar Rp108,7 juta untuk pelaksanaan Timbang Balita Serentak di 11 kelurahan.
Program tersebut ditujukan untuk memperoleh data pertumbuhan balita yang akurat sekaligus mempercepat identifikasi anak yang berisiko mengalami stunting.
Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Maslani, mengatakan stunting tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tapi juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Karena itu, penyelesaiannya membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan Pupuk Kaltim berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari upaya tersebut,” ujar Maslani saat menyerahkan bantuan secara simbolis kepada Pemkot Bontang, Rabu (29/7/2026).
Menurut Maslani, peningkatan derajat kesehatan masyarakat menjadi salah satu fokus Pupuk Kaltim dalam memberikan manfaat bagi masyarakat Kota Bontang.
Membangun generasi yang sehat, kata dia, tidak dapat dilakukan hanya melalui program pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan aktif dunia usaha dan masyarakat secara luas.
Pupuk Kaltim juga mendukung peningkatan kapasitas kader Posyandu melalui Program Hidup Sehat Tanpa Stunting (PESUT) yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sebagai bagian dari program prioritas Gratispol.
Workshop yang digelar selama satu hari tersebut diikuti 120 kader Posyandu dari 15 kelurahan dan dilaksanakan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Bontang.
“Kader Posyandu memiliki peran strategis di garis terdepan dalam memantau tumbuh kembang anak, serta mendampingi masyarakat menjaga kesehatan ibu dan balita. Oleh sebab itu, peningkatan kompetensi menjadi investasi penting, agar pencegahan stunting semakin efektif dan berkelanjutan,” terang Maslani.
Seluruh dukungan tersebut juga menjadi bagian dari langkah proaktif Pupuk Kaltim dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek kesehatan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pembangunan masyarakat yang inklusif.
Maslani menegaskan, komitmen tersebut akan terus diperkuat melalui perluasan manfaat program maupun intervensi langsung secara berkesinambungan.
“Melalui kolaborasi yang kuat bersama Pemkot Bontang dan masyarakat, kami optimis pencegahan dan pengendalian stunting akan semakin efektif untuk melahirkan generasi Bontang yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” tambahnya.
Sementara itu, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menyampaikan apresiasi atas dukungan berkelanjutan Pupuk Kaltim terhadap upaya pengendalian stunting yang menjadi salah satu program prioritas Pemkot Bontang.
Neni mengatakan, Pemkot Bontang terus melakukan berbagai upaya untuk menekan prevalensi stunting yang sebelumnya berada di kisaran 20 persen.
“Alhamdulillah, berdasarkan hasil timbang balita serentak pertama pada 2025, angka stunting turun menjadi 17 persen. Selanjutnya pada 2026 kembali turun menjadi 14 persen. Ini menunjukkan bahwa kerja bersama memberikan hasil yang nyata,” ungkap Neni.
Meski mengalami penurunan, Neni menegaskan capaian tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak berpuas diri.
Saat ini masih terdapat lima kelurahan dengan angka stunting dua digit, sementara kelurahan lainnya telah mencapai angka satu digit.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dinilai perlu terus diperkuat melalui berbagai program pengendalian dan intervensi.
“Secara nasional, penurunan stunting Kota Bontang termasuk yang terbaik. Namun target kita bukan sekadar menurunkan angka, tapi mencapai zero stunting. Untuk itu, kita harus terus memperkuat kolaborasi dan memastikan seluruh wilayah mampu mencapai hasil yang sama,” pungkas Neni. (**)







