Kabarpublic.com – Pemerintah Kabupaten Luwu terus memperkuat sektor perkebunan sebagai salah satu penopang perekonomian daerah.
Tahun 2026, sebanyak 8 juta batang bibit kakao unggul disiapkan untuk pengembangan areal perkebunan seluas 8.000 hektare.
Selain bibit kakao, Pemerintah Kabupaten Luwu juga mendapatkan dukungan bantuan 24.000 batang bibit pala untuk rehabilitasi lahan seluas 400 hektare serta 500.000 batang bibit kopi Arabika untuk perluasan areal perkebunan seluas 500 hektare.
Hal tersebut disampaikan Bupati Luwu saat membuka Rapat Koordinasi Mendukung Keberhasilan Program Peningkatan Produksi dan Hilirisasi Komoditas Perkebunan melalui kegiatan bantuan bibit kakao, pala dan kopi Arabika Tahun Anggaran 2026 di Gedung Balai Rasdiana Center Belopa, Sabtu (8/8/2026).
Ia mengatakan kakao, pala dan kopi merupakan tiga komoditas strategis yang selama ini menjadi sumber pendapatan bagi keluarga petani di Kabupaten Luwu.
Karena itu, bantuan yang dialokasikan melalui Direktorat Jenderal Perkebunan bersama Pemerintah Kabupaten Luwu tersebut harus dikelola secara tepat agar mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.
Bantuan bibit kakao menjadi salah satu program utama pengembangan perkebunan di Kabupaten Luwu tahun ini. Sebanyak 8 juta batang bibit kakao unggul disiapkan untuk mendukung pengembangan areal seluas 8.000 hektare.
Bibit kakao tersebut terdiri atas jenis seedling klon ICCRI 08 serta sambung pucuk klon SUL1, SUL2, MCC02 dan klon BB (Buntu Batu).
Sementara untuk komoditas pala, pemerintah menyiapkan 24.000 batang bibit yang akan digunakan untuk kegiatan rehabilitasi pada areal seluas 400 hektare.
Adapun bantuan bibit kopi Arabika mencapai 500.000 batang untuk mendukung perluasan areal perkebunan seluas 500 hektare.
Bupati Luwu menekankan pentingnya ketepatan data dalam pelaksanaan program bantuan bibit perkebunan tersebut.
Dinas Pertanian bersama para penyuluh diminta memastikan data Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) benar-benar valid dan akuntabel sehingga bantuan tidak mengalami tumpang tindih maupun salah sasaran.
“Tidak boleh ada tumpang tindih dan tidak tepat sasaran,” tegas Bupati.
Selain ketepatan sasaran, kualitas bibit yang disalurkan juga menjadi perhatian. Seluruh bibit harus memenuhi standar yang telah ditetapkan, antara lain bersertifikat, berumur 4–6 bulan, memiliki tinggi 40–50 sentimeter, serta dalam kondisi sehat.
Proses pengadaan bibit juga diminta dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku.
Dalam tahap pelaksanaan, para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) diminta memberikan pendampingan secara intensif kepada petani.
Pendampingan tersebut dilakukan mulai dari proses penanaman hingga pemeliharaan tanaman agar bantuan bibit yang diberikan dapat tumbuh dan menghasilkan produksi sesuai target.
Bupati juga meminta monitoring dan evaluasi dilakukan secara berjenjang. Setiap tahapan pelaksanaan program harus didokumentasikan secara lengkap, termasuk melalui foto geotagging dan Berita Acara Serah Terima (BAST).
Menurutnya, transparansi menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh proses berjalan secara akuntabel sekaligus mencegah munculnya persoalan hukum di kemudian hari.
Bupati menegaskan, keberhasilan program bantuan bibit perkebunan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah bibit yang berhasil disalurkan kepada petani.
“Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari tersalurnya bibit, tetapi dari meningkatnya produksi dan kesejahteraan petani 3–4 tahun mendatang,” ujarnya.
Ia berharap bantuan tersebut tidak berhenti pada tahap distribusi bibit, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama untuk meningkatkan produksi komoditas perkebunan sekaligus memperkuat posisi Kabupaten Luwu sebagai salah satu sentra kakao, pala dan kopi.
Rapat koordinasi tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Luwu sebagai langkah awal memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah, penyuluh dan kelompok tani.
Koordinasi tersebut diharapkan dapat memastikan program bantuan bibit kakao, pala dan kopi Arabika Tahun Anggaran 2026 berjalan tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produktivitas serta kesejahteraan petani di Kabupaten Luwu. (**)







