Kabarpublic.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, kian mengkhawatirkan.
Api yang mulai berkobar sejak Senin (19/10/2026) tersebut kini telah meluas ke dua desa, yakni Desa Lengkong dan Desa Puty, serta makin mendekati kawasan permukiman warga.
Selain membumihanguskan kawasan hutan, si jago merah turut melahap area perkebunan produktif milik warga setempat.
Tanaman komoditas unggulan seperti cengkih, kakao (cokelat), durian, pala, hingga lada/merica dilaporkan hangus terbakar.
Camat Bua, Jaka Sadli, mengungkapkan bahwa perluasan area yang terbakar mengalami peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan hari pertama kejadian.
“Untuk kebakaran hutan dan lahan ini sudah terjadi sejak dua hari yang lalu. Untuk hari pertama itu kurang lebih 20 hektare. Untuk update sekarang ini sudah mencapai ratusan hektare,” ujar Jaka Sadli, Rabu (21/10/2026).
Penjabat Kepala Desa Lengkong, Muhammad Darussalam, menyebutkan bahwa di wilayahnya saja sudah terpantau setidaknya tujuh titik lokasi kebakaran, tepatnya di area Buntu Baru.
“Titik terbakar sudah mencapai tujuh titik lokasi, mulai dari arah barat mengarah ke timur. Luasannya sekitar lebih dari 100 hektare,” tutur Darussalam.
Akibat musibah ini, ratusan pohon cengkih serta berbagai tanaman perkebunan lainnya rusak total.
Darussalam menaksir kerugian material yang menimpa para petani di desanya sudah menyentuh angka ratusan juta rupiah, meskipun pendataan secara detail masih terus berjalan.
“Akibat kebakaran hutan dan lahan ini, kerugian warga itu banyak di perkebunan cengkih, cokelat, hingga durian. Kalau kerugian petani secara material sudah mencapai ratusan juta,” terangnya.
Upaya penjinakan si jago merah di Kecamatan Bua menghadapi tantangan yang sangat berat.
Sebagian besar titik api berada di kawasan perbukitan dengan topografi yang curam, ditambah akses jalan yang sangat terbatas dan ketersediaan air yang minim.
Tim gabungan yang terdiri dari personel Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Luwu, Polsek Bua, TNI, SAR Pramuka, pemerintah kecamatan/desa, serta warga setempat bahu-membahu bergerak secara gotong royong memadamkan api.
Namun, terbatasnya sarana membuat petugas di lapangan membutuhkan bantuan armada dan dukungan tambahan.
“Kami harapkan ada bantuan karena kondisi medannya cukup curam dan air sangat kurang,” jelas Jaka.
Pihak pemerintah kecamatan bersama petugas gabungan terus bersiap dan bersiaga penuh di lokasi terdampak.
Armada darurat telah disiapkan untuk mengantisipasi skenario terburuk apabila pergerakan api semakin meluas dan mengancam keselamatan warga di sekitar permukiman.
“Hingga sekarang warga belum diungsikan. Petugas masih siaga memantau. Kami menyiapkan armada untuk persiapan jika api semakin mendekat ke permukiman,” pungkasnya. (**)






