Mitigasi Bencana Banjir, IKB KJP Bentuk Desa Siaga Bencana di Luwu

Daerah, News, Pendidikan32 Dilihat

KABARPUBLIC.COM – Institut kesehatan dan bisnis Kurnia Jaya Palopo (KJP) yang bekerjasama dengan Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemerintah Kabupaten Luwu membentuk Desa tanggap bencana

Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi bencana yang kuat serta menyiapkan sumberdaya manusia yang tanggap bencana.

Selain itu juga sebagai bentuk mitigasi bencana yang bisa terjadi kapan saja, baik itu banjir, gempa bumi dan tanah longsor, yang hasurs mewaspadai.

Kaprodi Sarjana Keperawatan Fakultas Kesehatan Institut kesehatan dan bisnis kurnia jaya Palopo, Ns. Sumiati mengatakan merupakan salah satu langkah yang ditempuh civitas akademik beserta mahasiswa praktek kerja profesi ners dalam mengupayakan mitigasi bencana secara maksimal.

” Pembentukan desa tanggap bencana ini kami lakukan di Desa Malela, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu. Mengingat lokasi tersebut juga salah satu titik kawasan rawan bencana alam yakni banjir sehingga kita memberikan edukasi sebagai upaya mitigasi bencana yang kuat serta menyiapkan sumberdaya manusia yang tanggap bencana,” Kata Sumiati.

Dirinya juga menjelaskan jika pihaknya sangat berterimakasih kepada seluruh elemen baik itu Basarnas, Pemerintah Kabupaten, Badan Penanggulangan Bencana Daerah serta masyarakat yang sangat antusias dalam kegiatan ini.

“Alhamdulillah antusiasme masyarakat dalam pembentukan desa siaga bencana sangat mendapatkan respon yang luar biasa,” Pungkasnya.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Luwu, Andi Baso Tenriase menyakini jika melalui kegiatan pembentukan desa siaga bencana (Bestana) adalah salah satu langkah yang ditempuh pemerintah daerah dalam mengupayakan mitigasi bencana secara maksimal.

Untuk itu, dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat dalam mengahadapi situasi darurat bencana.

” Bestana ini adalah bentuk kolaborasi yang luar biasa dalam rangka mengantisipasi dan menyiapkan warga kita untuk siap siaga terhadap bencana. Jadi bukan hanya pemerintah pusat saja, tetapi peran pemerintah daerah dan masyarakat juga perlu,” ucapnya.

Andi Baso Tenriase juga menerangkan jika dalam waktu dekat ini pihaknya akan segera membentuk sejumlah desa yang masuk dalam kategori kawasan rawan bencana alam, dengan melibatkan seluruh masyarakat terutama pemuda sebagai relawan tanggap bencana.

“Kedepannya kita akan segera kordinasikan terkait kawasan-kawasan yang masuk kategori kawasan rawan bencana, hal tersebut berdasarkan aturan dari pemerintah pusat dimana kita juga melibatkan pemuda sebagai relawan tanggap bencana,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Personel Pos Unit SAR Luwu Utara Usman Alwi Ansar yang mewakili Basarnas Sulawesi Selatan berharap dengan adanya kegiatan pelatihan serta pembentukan desa siaga bencana, masyarakat setempat mampu menjadi garda terdepan di masyarakat dalam kesiapsiagaan bencana, tidak hanya saat terjadi bencana tapi terlibat dalam upaya pencegahannya.

” Semoga masyarakat dapat mengimplementasikan ilmu terkait dengan mitigasi bencana, tidak hanya ketika terjadi bencana tetapi juga bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat lainya,” Tutupnya.

Sekadar diketahui dalam kegiatan tersebut juga dihadiri sekitar 150 peserta baik itu tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, karang taruna desa malela serta masyarakat setempat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *