Kabarpublic.com – Pengurus Pusat Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PP PPGT) mendesak Kapolda Sulawesi Selatan untuk segera mengevaluasi kinerja Kapolres Palopo.
Desakan ini disampaikan menyusul penilaian bahwa penanganan kasus penyerangan yang berdampak pada rumah ibadah di Kelurahan Lebang, Kecamatan Wara Barat, Kota Palopo, berjalan lamban.
Konflik antar-kelompok warga di Kelurahan Lebang disebut telah berlangsung lama.
Kondisi tersebut bahkan berdampak pada kerusakan fasilitas ibadah, termasuk Gedung Gereja Toraja Jemaat Lappo yang menjadi sasaran penyerangan.
Ketua Umum PP PPGT, Malvin, menyampaikan sejumlah sikap organisasi terkait peristiwa tersebut. Ia menilai, rumah ibadah seharusnya menjadi ruang yang dilindungi dan tidak boleh terdampak konflik sosial yang berlarut-larut.
Pertama, PP PPGT mengecam keras penyerangan terhadap Gedung Gereja Toraja Jemaat Lappo dan menyayangkan peristiwa tersebut yang dinilai mencederai nilai toleransi.
Kedua, PP PPGT mendesak Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Polres Palopo untuk mengusut tuntas pihak-pihak yang terlibat dalam rangkaian konflik tersebut.
Lambannya penanganan dinilai berpotensi memicu bentrokan berulang yang merugikan masyarakat.
Ketiga, PP PPGT mengimbau masyarakat, khususnya pemuda dan warga di Kelurahan Lebang, agar tetap tenang, tidak terprovokasi, serta menahan diri dari tindakan yang dapat memperkeruh situasi.
Organisasi ini juga mengingatkan agar konflik tidak diseret ke isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).
“Konflik di Lebang ini sudah berlangsung lama dan rumah ibadah ikut menjadi korban. Kami meminta Kapolda Sulsel turun tangan mengevaluasi Kapolres Palopo. Jika tidak ada langkah tegas dan cepat, kami khawatir situasi ini dapat mencederai toleransi dan keamanan di Kota Palopo,” ujar Malvin. (**)







