Nasional

Menag Nasaruddin Umar Tekankan Kolaborasi Media dan Relawan dalam Penanganan Bencana

×

Menag Nasaruddin Umar Tekankan Kolaborasi Media dan Relawan dalam Penanganan Bencana

Sebarkan artikel ini

Kabarpublic.com – Di tengah duka yang masih menyelimuti Kabupaten Bandung Barat, aktivitas kemanusiaan terus berjalan tanpa henti.

Relawan bergerak tanpa lelah, aparat bekerja dalam senyap, kamera media terus merekam, dan doa mengalir dari berbagai penjuru negeri untuk para korban bencana.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyaksikan langsung pertemuan empati bangsa Indonesia dalam satu titik, yakni kepedulian terhadap sesama.

Menurut Menag, penanganan bencana tidak pernah dapat ditopang oleh satu pihak semata, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai elemen.

Ia menegaskan, sinergi antara pemerintah, relawan, dan media menjadi fondasi penting dalam membangkitkan solidaritas nasional di tengah situasi darurat.

“Tanpa peran aktif media, sulit membayangkan bagaimana partisipasi masyarakat bisa bangkit sekuat ini. Pemberitaan yang terus berlangsung membuat masyarakat terenyuh dan tergerak untuk ikut membantu,” ujar Menag saat meninjau lokasi bencana, Minggu (1/2/2026).

Baca juga:  Wawali Palopo Sambut SMSI, Dorong Media Jadi Mitra Strategis Pembangunan

Bagi Menag, media bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga penghubung rasa antarsesama.

Melalui pemberitaan yang faktual dan berkesinambungan, penderitaan di satu wilayah dapat dirasakan oleh masyarakat di wilayah lain.

“Satu orang yang tertimpa musibah di negeri ini ikut dirasakan oleh saudara-saudaranya di tempat lain. Itu salah satunya karena peran media,” tambahnya.

Namun demikian, Menag menekankan bahwa kerja kemanusiaan dalam situasi bencana tidak berhenti pada penyaluran bantuan logistik atau penyelamatan korban yang masih hidup.

Terdapat dimensi lain yang kerap luput dari perhatian, yakni penghormatan terakhir bagi para korban yang wafat.

Baca juga:  Kemenag Raih Tingkat Kepatuhan 100% dalam Laporan LHKPN 2024

Kementerian Agama, kata Menag, hadir untuk memastikan para korban diperlakukan secara bermartabat, mulai dari proses pemulasaraan hingga penguburan sesuai dengan tuntunan agama.

“Bantuan kemanusiaan tidak hanya untuk mereka yang masih hidup. Saudara-saudara kita yang sudah wafat pun memiliki hak untuk dibantu, dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan didoakan agar mereka tenang di sisi-Nya,” tuturnya.

Untuk mendukung layanan tersebut, Kementerian Agama telah menyiapkan panduan praktis tata cara pemulasaraan jenazah (tajhizul mayit) yang bersifat universal bagi umat Islam.

Panduan ini dicetak dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa agar dapat dimanfaatkan secara luas, termasuk oleh masyarakat Indonesia di luar negeri.

Dalam kondisi darurat, kehadiran panduan yang jelas dinilai mampu memberikan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Baca juga:  Pemerintah Targetkan Pendapatan APBN di 2025 Naik

Di balik seluruh proses itu, Menag juga menyampaikan apresiasi kepada para relawan dan petugas yang bekerja di garis depan, termasuk tim Disaster Victim Identification (DVI) yang menghadapi beban fisik dan emosional berat.

“Mereka bekerja dengan kekuatan luar biasa. Kuat saat bertugas, namun tetap manusiawi ketika kesedihan datang. Ini adalah kerja kemanusiaan yang tidak ringan,” ungkapnya.

Menag berharap sinergi yang terbangun selama masa tanggap darurat dapat terus dirawat hingga tahap pemulihan.

Menurutnya, bencana bukan hanya tentang kerusakan fisik, tetapi juga tentang menjaga harapan, memulihkan batin, dan memastikan bahwa di tengah duka, bangsa Indonesia tetap saling menopang dengan aksi, empati, dan doa. (**)