Kabarpublic.com – Bupati Luwu, Patahudding, menegaskan pentingnya nilai sejarah dan budaya Luwu dalam menjaga jati diri bangsa pada malam puncak peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80.
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan jamuan makan malam bersama Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) yang berlangsung di Istana Kedatuan Luwu, Kota Palopo, Jumat (23/1/2025).
Bupati Luwu menyampaikan apresiasi dan rasa hormat atas kehadiran para raja dan sultan dari berbagai wilayah Nusantara.
Menurutnya, kehadiran para pemangku adat merupakan kehormatan besar bagi masyarakat Tana Luwu sekaligus menjadi penguat ikatan sejarah dan kebudayaan bangsa.
“Bagi masyarakat Luwu, tamu adalah pembawa berkah. Kehadiran para raja dan sultan di Istana Kedatuan Luwu menjadi kehormatan sekaligus pengingat bahwa kita diikat oleh benang sejarah yang sama sebagai bangsa Indonesia,” ujar Patahudding.
Ia menambahkan, eksistensi Luwu yang telah bertahan selama 758 tahun merupakan bukti kokohnya sistem nilai yang diwariskan oleh para leluhur.
Nilai siri’ na pesse, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat dan tetap relevan di tengah dinamika kehidupan modern.
“Luwu mengajarkan kepemimpinan yang mengayomi. Konsep pajung atau payung dalam simbol Kedatuan Luwu bukan sekadar pelindung dari panas dan hujan, tetapi melambangkan pemimpin yang mampu memberi keteduhan bagi siapa pun yang berada di bawah naungannya, tanpa memandang kasta maupun golongan,” lanjutnya.
Melalui Forum Silaturahmi Keraton Nusantara, Bupati Luwu berharap nilai-nilai luhur dari berbagai kerajaan dan kedatuan di Indonesia dapat saling menguatkan dalam menjaga jati diri bangsa yang berakar kuat pada sejarah dan kebudayaan.
Sementara itu, Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, dalam Pappasenna Datu Luwu menyampaikan pesan warisan leluhur yang menjadi pedoman masyarakat Luwu dari generasi ke generasi.
Pesan tersebut menekankan pentingnya menjaga harmonisasi dan solidaritas sosial.
Adapun pesan yang disampaikan yakni sipakainge atau saling mengingatkan, masseddi siri sebagai persatuan dalam menjaga harkat dan martabat, serta alebbiring untuk meraih kemuliaan.
“Inilah tiga pesan yang perlu kalian patrikan dalam dada. Di manapun mengabdi dan dalam bentuk apa pun pengabdianmu, berpegang teguhlah pada nasihat ini. Insya Allah akan tetap eksis dalam berkarya dan mengabdi,” amanah Datu Luwu.
Kegiatan tersebut turut dihadiri para raja dan sultan yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton Nusantara, anggota DPR RI Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan III, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Daerah Pemilihan XI, para kepala daerah dan ketua DPRD se-Tana Luwu, unsur pimpinan dan anggota DPRD se-Tana Luwu, Forkopimda se-Tana Luwu, Ketua dan anggota KKLR Sulawesi Selatan, serta tokoh adat dan tokoh masyarakat. (**)







